Categorized | Artikel, Featured, Foto Gallery

Aduh Jalanku Yang Kaya Minyak dan Tambang

 

Hari ini tempatnya jam 16.00 sore (14/7/2012), aku mengayuh (seperti naik sepeda ontel aja) kendaraanku menuju Liang Buaya Muara Kaman. Walaupun sudah sore, jalanan yang aku lalui masih dapat aku lihat ranjau-ranjaunya. Dengan lagu yang silih berganti menghibur kesendirianku dikendaraan membuat aku bersemangat memacu mobil yang aku tumpangi. Karena perjalanan ini cukup jauh. Aku harus menginap di Kota Bangun dulu, karena untuk menuju pelabuhan Tebalai Muara Kaman dengan cuaca yang begitu redup, hujan terus membasah bumi Kota Bangun dan sekitarnya,  resiko yang dihadapi cukup tinggi. Ditambah Lampu jalanan memang gak ada terpasang, gak tahu apa memang tidak dipasang atau anggarannya memang tidak ada. Tapi itu tidak penting bagiku, karena aku tetap melanjutkan misiku besok. Bagi anda mungkin penting!.

Disamping lampu kendaraan yang membawaku sebelah kanan mati, akan menambah beratnya perjalanan untuk menuju pelabuhan tersebut.  Oleh karena itu satu-satu jalan aku harus menginap dulu ke Kecamatan Kota bangun. Pagi baru kembali lagi kepersimpangan Muara Kaman – Kota Bangun (menuju Pelabuhan Tebalai). Sebenarnya kendaraan yang aku tumpangi  cukup laek untuk dipacu sekencang-kencangnya, tapi karena keadaan jalanan yang sangat rusak perjalananku sering terhambat, disisi lain untuk mencari jalan yang bagus, kita harus memakai jarum kompas yang handal.

Oleh karena itu saran aja, jangan pilih lagi dech pemimpin yang sekarang ini, karena gak ada perubahan. Pembangunan masih terpusat di Kota saja. Kalau ada yang baru juga jangan  dipilih, percuma saja, jika menang paling-paling ngebalikin modal dulu atau lupa daratan. Seingatku jalan Tenggarong-Kota Bangun ini hampir 10 tahun gak pernah di aspal, apalagi dilebari.

Masyarakat kita harus cerdas, jangan ketika dikasih uang 50-100 ribu sudah senang. Ingat yang jadi tim sukses jauh lebih gedek dapatnya. Ingat kata Mario Teguh,”kalau anda dikasih 50ribu,  maka mereka akan menerima 500 juta, jika anda dikasih 100 ribu, maka mereka menerima 5 miliar”.

Padahal tanpa promosi pun, rakyat akan memilih kembali jika mereka bisa membuktikan 4 indikator keberasilan pembangunan (Indek Pembangunan Manusia) :

A. Indikator Inti

 B. Indikator Sektoral :

       1. Kesehatan

       2. Pendidikan

      3. Ekonomi

Atau dapat kita singkat :

1. Pendidikan, untuk merubah minset, prilaku masyarakat kita agar memiliki daya nalar yang baik. Perjuangan bukan untuk sesaat saja, tapi untuk jangka panjang, orang tidak pandai berpikir saja, tapi harus cerdas dan bijaksana, sehingga pendidikan adalah hal utama.

2. Jalan, untuk membuka isolasi antar daerah. Semakin banyak jalan dibuka dan diperbaiki, maka makin mudah masyarakat bertransaksi. Secanggih apapun teknologi tanpa akses jalan yang bagus akan mempengaruh harga dipasaran. Biaya pendidikan akan mahal, karena perlu biaya yang besar untuk mencapainya. Jalan merupakan hal yang pital setelah pendidikan

3. Rumah Sakit, kebutuhan masyarakat yang memang perlu diperhatikan, walaupun hanya sebatas Puskesmas.

4. Listrik. Penerangan ditambah dengan kemampuan teknologi yang sudah gak bisa ditahan-tahan lagi, maka listrik merupakan ruang untuk membuka kemajuan teknologi tersebut. Orang tidak akan bisa menggunakan laktop yang sudah dibeli atau diberikankan oleh pemerintah, jika listrik belum sampai didaerah mereka.

Dengan indikator ini Kutai Kartanegara dan Kutai Barat seimbang, yaitu urutan 10. Sedangkan Kutai Timur berada diurutan 12. Balikpapan menempati urutan pertama. Tanah Tidung berada diurutan uncit, dan aku rasa wajar karena termasuk wilayah baru hasil pemekaran.

Jadi ngapaian kita susah-susah mencari pemimpin yang berhasil atau tidak berhasil, cukup lihat IPM-nya aja donk. Sehingga kalau rakyat kita gak tergiur dengan janji-janji pepesan kosong saja (Retorika), kita lihat saja IPM masing-masing daerah, maka pemimpin yang berhasil mengangkat IPM-nya itulah yang cocok ita pilih.

Kalau ada yang mengatakan IPM kita sudah baik, tentunya indikator mana dulu. Meskipun rumah sakit ada, seperti hampir rampung di Kota Bangun – Kukar, atau pendidikan sudah bagus, tapi kalau akses menuju tempat tersebut belum begitu baik, maka tetap aja menyusahkan masyarakat untuk melakukan kegiatan. Oleh karena itu Keempat indikator ini harus seimbang. Dan menurutku yang paling utama diperbaiki adalah jalan.  Jalan akan membuka  akses distribusi baik ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan dan listrik.

Hanya terserah masyarakat Kalimantan Timur maupun daerah masing-masing wilayah, kalau menginginkan pembangunan kita ini gicu-gicu aja, sedangkan pengerukan tambang kekayaan bumi kita terus dikeruk, banjir dimana-mana, jalan gak ada yang mulus (tambal sulam), jembatan, lapangan , dll gak selesai-selesai, maka silakan pilih kembali. Tidak ada yang melarang kok. Ada kata agama yang sering kita dengar, “Agamamu, agamamu, agamaku, agamaku.” Artinya kita punya tugas masing-masing.

Oke dech  mungkin ceritaku diatas harus aku stop dulu, sebab besok pagi-pagi aku harus bangun, ada yang lebih penting aku lakuan besok, karena aku harus melanjutkan perjalan ke Muara Kaman. Aku harus masuk jalan (pelabuhan Tebalai) yang pada bulan Juni lalu rusaknya juga minta ampun. Harapan ku kali ini jalan tersebut agak bagus walaupun hanya dikasih kerikil, daripada lubangnya silih berganti menutupi jalan. Dari Kecamatan Muara Kaman, aku naik Ces (Perahu motor pakai mesin) menuju Desa Liang Buaya, tempatnya ikan-ikan sungai yang segar. Tempatnya ikan kering yang masih asli.

Leave a Reply